KPM BPNT Sukamandijaya Terima Satu Item Sembako yang Bau Busuk


SUBANG- Geger, telah ditemukan salah satu dari sejumlah item Sembako BPNT, yaitu jenis Tempe tidak sesuai komoditi alias berkualitas buruk diterima oleh para KPM di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 13 Juli 2020.

Hal itu terungkap atas keterangan salah satu KPM BPNT di Dusun Cijengkol, Desa Sukamandijaya, didampingi Ketua RT nya, bernama Dida Mulyana, “Tempe BPNT bulan ini tidak layak konsumsi, karena sudah bau busuk,” ungkapnya, Senin sore, 13 Juli 2020.

Lanjutnya menjelaskan, “Sembako ini saya beli di e-warong/ BRIlink Doni Cell, Dusun Margasari, Desa Sukamdijaya,” jelasnya.

Menyikapi masalah tersebut, keesokan harinya Perak konfirmasi ke pihak bersangkutan, yaitu e-warong/ BRIlink Doni Cell, “Betul, memang ada tempe yang tidak layak konsumsi dan bau busuk di Suplay oleh pak Depan dan ngomongnya sih mau diganti dengan Tempe yang segar. Pak Depan ini bisa Suplay Sembako ke BRIlink saya mengatasnamakan CV atas arahan dari pak Ade Ahyani (Koordinator Pendamping PKH Kecamatan Ciasem),” terangnya, Selasa, 14 Juli 2020.

Sementara itu, ditempat terpisah satu orang KPM BPNT masih di Desa Sukamandijaya yang mengambil sembako di bulan ini menerangkan, “Sembako BPNT yang saya terima dari BRIlink Doni Cell, tidak sesuai harga pasar, diantaranya Ayam setengah Kg, harganya hanya Rp16 ribu, Beras 10 Kg, Rp100 ribu, Sayuran sop satu bungkus harganya Rp3 ribu, Tahu satu bungkus isi sepuluh biji harganya Rp5 ribu, Tempe satu papan harganya Rp4 ribu, Telor 15 butir harganya Rp27 ribu dan buah pir empat buah atau satu Kg harganya Rp17 ribu. Jika ditotalkan, harga keseluruhannya Rp172.000,-” terangnya.

Seperti telah diberitakan Perak diedisi sebelumnya, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Subang, Drs. Deden Hendriana, M.Pd., menyatakan, “Berkaitan dengan masalah ini, saya sudah buat SP (Surat Perintah) kepada Kabid dan Kasi PKH untuk turun ke lapangan dan tidak hanya satu kali, Ade Ahyani juga sudah kami panggil untuk klarifikasi atas permasalahan ini, laporannya belum saya tandatangani, nanti saya akan tandatangani dan cari solusi dengan tim, untuk menindaknya, sanksinya apa harus dibina, atau dicut (diberhentikan dari tugas),” tandasnya.

Setiap ada informasi lanjut Deden, “Bahwa untuk melakukan pembenahan dan perbaikan, kita punya Pedum (Peraturan umum) juga ada Permensos (Peraturan Menteri Sosial) nya, bahwa BPNT atau program sembako itu, sebagai penyuplay dan pembeli sembako itu, wewenangnya ada di e-Warong, tetapi apapun kita, terus terang ada informasi dari teman-teman saya apresiasi, karena dalam pengawasan ini, dinas tidak bisa berjalan sendiri, makanya saya gembor-gemborkan ke masyarakat agar bersama mengawasi dan mengendalikan di lapangan,” paparnya.